Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seni Budaya. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 November 2012

Mengenal Batik Gumelem Melalui Sejarahnya


Bicara Batik Gumelem tak mungkin melewatkan sejarah kemunculannya. Sampai saat ini belum ada penelitian yang secara khusus menguak sejarah Batik Gumelem. Ada beragam versi tentang kemunculan batik di Gumelem.

Namun ada dua versi yang banyak dijadikan rujukan bagi pihak-pihak yang ingin tahu tentang Batik Gumelem. Sebagai warga Banjarnegara, semangat saja ternyata tidak cukup untuk bisa mencintai dan’nguri-uri’  Batik Gumelem. Karenanya kita perlu mengetahui sejarahnya supaya bisa lebih mencintai produk asli khas Banjarnegara ini.
Dalam Buku ”20 Tahun Gabungan Koperasi Batik Indonesia” yang diterbitkan sekitar tahun 1968, Sejarah Batik Gumelem masih terkait erat dengan Batik Sokaraja atau Batik Banyumas. Sejarah Batik Banyumas dimulai sejak pengungsian para keluarga raja dan pengikut Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta yang terdesak oleh Kompeni Belanda. Setelah perang usai pada tahun 1830, para keluarga raja dan pengikut Diponegoro memilih menetap di pengungsian daripada harus kembali ke keraton yang belum jelas jaminan keamanannya.

Selasa, 30 Oktober 2012

Baru Berdiri Dua Tahun, Batik Wardah Langsung Berkembang

Batik Banjarnegara dengan pusatnya di Gumelem Wetan dan Gumelem Kulon, serta Desa Panerusan Wetan Kecamatan Susukan hingga saat ini telah mengalami perkembangan positif, menyusul dengan banyaknya pesanan dari para kolektor. Maka tak ayal jika jumlah pengrajin batik yang semula hanya tinggal 22 orang pada tahun 2003 kini jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 200 Orang.

Himbuan dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tentang penggunaan pakaian batik bagi semua Pegawai Negeri Sipil pada tahun 2004, nampaknya menjadi penyebab terjadinya peningkatan jumlah pengrajin tersebut

Jumat, 28 September 2012

Sejak Awal Siswa SDN 1 Krandegan di Perkenalkan Seni Karawitan

Ada perbedaan yang perlu dipahami oleh para generasi muda yang ingin mempelajari seni budaya Jawa, yakni antara Gamelan dan Karawitan. Gamelan adalah alat musik yang lebih bersifat universal, sedangkan karawitan adalah sistematika cara menabuhnya. Demikian dikatakan oleh Kasum, mengawali kegiatan rutin Sabtu siang berupa ekstrakurikuler seni karawitan di SDN 1 Krandegan belum lama ini.

Kasum, yang sudah puluhan tahun menghabiskan waktunya untuk melatih siswa SD merasa kurang sependapat jika irama gending itu dikatakan kuno. Justru jika ditangani dengan professional oleh seniap seniman, maka alat musik Gamelan dipastikan tidak kalah saing dengan alat modern.
Dihadapan puluhan siswa SDN 1 Krandegan yang rata-rata seusia kelas IV dan kelas V, Kasum menuturkan, justru dengan alat musik Gamelan para seniman bisa berekspresi. Apalagi dunia internasional mengakui jika Gamelan, khususnya karawitan Jawa merupakan orkestra terlengkap sebagai mahakarya dunia.

Pengabdian Seorang Mu'minah pada Batik Tulis Gumelem

Siang itu hamparan sawah di Desa Gumelem Kulon dan Gumelem Wetan, Susukan, Kabupaten Banjarnegara masih kelihatan hijau. Itu artinya masyarakat disana belum ada kesibukan untuk memanen padi. Dalam suasana seperti itu masyarakat setempat banyak memanfaatkan waktunya untuk membatik.

Menurut penduduk setempat, kegiatan seperti itu sudah rutin dilakukan oleh kaum perempuan secara turun-temurun sebagai pekerjaan sampingan selain petani dan buruh tani.
Mu’minah (81 th) dari Desa Gumelem Kulon, adalah termasuk salah satu ibu rumah tangga yang masih tetap eksis mempertahankan keberadaan batik tulis “Gumelem” di Banjarnegara. Melestarikan seni adiluhung nenek moyangnya, adalah alasan paling tepat ia mempertahankan seni rupa dua dimensional itu.

Ditemui di rumah kediamannya yang nampak sederhana itu Mu’minah kelihatan sedang sibuk melakukan aktifitas seperti biasanya sebagai seorang pembatik. Tangan keriput seorang ibu dengan 10 anak itu sepertinya tak mengenal lelah mengayunkan canting di atas kain putih tanpa pola.
Kami sudah terlalu cinta dengan yang namanya batik, seni itu indah dan memberikan manfaat banyak bagi kehidupan masyarakat, ucap Mu’minah mengawali bincang-bincangnya dengan Redaksi web. ini di sela-sela kesibukannya mengayunkan canting kesayangannya.
Menurut Mu’minah, karya seni dua dimensional seperti batik tulis tidak hanya dimiliki oleh orang-orang yang memiliki bakat seni. “Sinten mawon saged mbatik sing penting onten niat”, ucap Mu’minah dalam bahasa Banyumasan yang kurang lebihnya adalah “Siapa saja bisa mewujudkan gagasan kreatifitas itu asalkan ada kemauan keras dan didukung dengan pengetahuan tentang ilmu batik maka setiap orang bisa melakukannya”.
Perajin batik yang namanya sudah tidak asing lagi di kalangan Pegawai Negeri Sipil itu mengaku mulai membatik sejak masih jaman penjajahan Jepang, waktu itu masih duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR).
Adapun keahlian dalam mengekspresikan gagasan estetika yang mengandung seni budaya itu tidak di peroleh dari hasil pendidikan seni di bangku sekolah melainkan hasil transferan dari kedua orang tuanya yang juga sebagai pembatik. Menurut Mu’minah, batik tulis di Gumelem, sudah ada sejak zaman kademangan yakni setelah perang Diponegoro.
Mu’minah memang sudah tidak muda lagi, meski begitu ia tidak mau berpangku tangan mengandalkan belas kasihan dari 10 anaknya. Dalam sisa hidupnya ia akan terus berusaha  mengabdikan dirinya dalam dunia seni batik, katanya.
Menurutnya, masa keemasan “Batik Gumelem” beberapa puluh tahun lalu pernah mengalami kemunduran bersamaan dengan adanya perubahan status Kedemangan Gumelem. Melunturnya nilai-nilai sakral dalam kehidupan masyarakat sehari-hari juga menambah suramnya dunia batik di daerah itu.
Namun mulai tahun 2004, nama Gumelem menjadi sering disebut-sebut oleh banyak orang menyusul adanya Surat Edaran dari Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tentang penggunaan “Batik Tulis  Gumelem” bagi semua Pegawai Negeri Sipil dalam melaksanakan tugas sehari-hari.
Kegembiraan para perajin batik nampaknya semakin sumringah setelah sebuah badan dunia (Unesco) mengakui keberadaan “Batik Indonesia” pada tahun 2009. Sejak itu pula “Batik Tulis Gumelem”  mulai dikenal oleh banyak kalangan, tidak hanya di daerah Banjarnegara sendiri, tetapi mulai dikenal pula oleh daerah lain.
Dalam galerinya yang terbuat dari bahan bambu, Mu’minah tidak bekerja sendirian, tetapi dibantu oleh 15 orang yang semuanya adalah ibu rumah tangga. Dalam setiap bulannya ia mampu menghasilkan sekitar 60 lembar batik tulis murni, dengan kisaran harga antara Rp 180 ribu hingga Rp 350 ribu/lembar tergantung bahan baku yang digunakan dan tingkat kesulitannya. Dari hasil karyanya itu, sebagian besar untuk memenuhi pasar lokal Banjarnegara dan Sokaraja.
Sambil terus mengayunkan cantingnnya di atas kain putih, Mu’minah dengan wajah yang masih menyisakan kecantikannya menuturkan tentang keluhan yang menyangkut permodalan. Selama menjadi seorang pembatik, Mu’minah sering kebingungan memperoleh modal untuk membeli bahan baku kain di Sokaraja. Ia baru bisa membeli bahan baku jika hasil karyanya sudah laku, katanya.
Menyinggung tentang proses pembuatan kain batik, secara singkat Mu’minah menjelaskan bahwa membatik adalah menuliskan malam yang dicairkan di atas kompor pada kain yang sudah dipola sebelumnya dengan menggunakan canting.
Kain yang sudah selesai ditulis itu kemudian diberi warna dengan jalan dicelup. Proses pencelupan bisa berulang-ulang tergantung jumlah warna yang dikehendaki. Maka jangan kaget jika satu lembar kain batik waktu yang dibutuhkan bisa mencapai satu sampai dua minggu minggu, sedangkan untuk kain batik yang halus bisa mencapai setengah sampai satu bulan.
Motif batik Gumelem sebagian besar diambilkan dari alam pedesaan, seperti motif Lumbon, Kopi Pecah, Pring Sedapur, Pring Setetek, Parang Cendol, cebong kumpul dan masih banyak sekali motif-motif alam pedesaan lainnya. (s.bag)